Berhasil Melantik dan Mengambil Sumpah 12 Orang Dokter Hewan Muda FKH UB

Universitas Brawijaya, Selasa (28/10), berhasil melantik dan mengambil sumpah 12 dokter hewan lulusan pertamanya.

Kebutuhan dokter hewan saat ini sangat diperlukan masyarakat, apalagi tahun depan Indonesia masuk dalam AFTA dan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Dalam sambutannya, Agung Pramana Warih Mahendra, Ketua Program Kedokteran Hewan UB, mengatakan, program ini merupakan salah satu dari 10 fakultas yang ada di Indonesia.

“Masyarakat menanti kiprah dan sumbangsih para dokter hewan melalui ilmu yang jarang dimiliki,” kata Agung.

Ditambahkan, Program Kedokteran Hewan UB akan terus berupaya meningkatakan kualitas, sehingga para dokter hewan dapat berpartisipasi dalam kompetensi global.

“Perjuangan untuk menjadi dokter hewan ini sangat patut diapresiasi,” tegasnya. (mnh)

MASTIMEDIS Juarai I-Challenge 2014

Akhir tahun 2014 menjadi kebahagiaan tersendiri bagi ketiga mahasiswa yang tergabung dalam sebuah kelompok KTI. Bagaimana tidak? ide yang tertuang dalam karya mereka yang dipresentasikan dalam kompetisi I-Challenge 2014 yang dilaksanakan pada 5 Desember 2014 lalu, di gedung Widyaloka Universitas Brawijaya dapat meraih juara II.
I-Challenge (Indonesia Chemical Engineering Event) merupakan kompetisi karya tulis ilmiah yang diselenggarakan oleh Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya dengan tema Engineering Technology Innovation for Society (ETIS). Dari tema tersebut, diharapkan pengembangan kreativitas dan inovasi IPTEKS untuk aplikasi dapat ditumbuh kembangkan di masyarakat sehingga meningkatkan daya saing bangsa Indonesia khususnya menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tahun 2015. Kelompok yang terdiri dari tiga mahasiswa tersebut diketuai oleh Rifa’i (Fapet 2013) dan beranggotakan Ahmad Azmi Khairul Umam (Fapet 2011) dan Bekti Sri Utami (PKH 2013) dengan di bawah bimbingan Dr. Ir. Puguh Surjowardojo, MS. menggagas ide MASTIMEDIS “Mastitis Electrical Biomedis” yang merupakan alat terapi mastitis pada sapi perah. Prinsip kerja dari alat ini adalah dengan elektroporasi yang diharapkan dapat membunuh bakteri penyebab mastitis. Rifai mengatakan “tingkat prevalensi mastitis di Indonesia khususnya di Jawa Timur masih tinggi. Sehingga dibutuhkan inovasi baru untuk mengatasi hal tersebut. Maka dari itu, kami menggagas MASTIMEDIS. Dengan menurunkan tingkat prevalensi mastitis, diharapkan Indonesia mampu mewujudkan swasembada susu pada tahun 2020.” Alat ini akan dikembangkan lebih lanjut dengan adanya hibah PKM DIKTI 2015.

Rifai (kiri), Bekti Sri Utami (tengah),
Ahmad Azmi Khairul Umam (kanan)